oleh

Mu’tamad 2026 Himpun 653 Abstrak dari Santri Dalam dan Luar Negeri

MALUIT.SIN.CO.ID – Sebanyak 653 abstrak dari Ma’had Aly, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), pondok pesantren, lembaga pendidikan, hingga institusi luar negeri resmi memasuki tahap reviu dalam Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026.

Konferensi internasional yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama ini menjadi rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus ruang akademik untuk memperkuat transformasi pesantren. Mu’tamad juga menjadi forum mendiseminasikan nilai-nilai Islam Wasathiyah, merumuskan harmonisasi kurikulum dan standar mutu, mengembangkan peta jalan internasionalisasi pesantren, serta memperluas kolaborasi antara pesantren Indonesia dan lembaga pendidikan global.

Panitia membuka pendaftaran pada 7 – 14 Oktober 2026. Dalam rentang waktu tersebut, tercatat ada 653 gagasan akademik yang didaftarkan dari kalangan mahasantri, mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi, dan komunitas pesantren.

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menyambut positif tingginya partisipasi akademik dalam Mu’tamad 2026. Menurutnya, 653 abstrak yang diterima menunjukkan antusiasme peserta, sekaligus mencerminkan besarnya potensi intelektual komunitas pesantren dalam merespons berbagai tantangan pendidikan, kemanusiaan, dan perkembangan peradaban.

“Bagi kami, 653 abstrak ini bukan semata angka partisipasi. Di dalamnya terdapat peta persoalan, kebutuhan, sekaligus tawaran gagasan dari komunitas akademik dan dunia pesantren. Ini merupakan modal intelektual yang sangat berharga bagi Ditjen Pesantren untuk membangun kebijakan yang lebih terarah, berbasis bukti, dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan pesantren,” ujar Basnang di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Basnang menegaskan bahwa kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren sebagai unit eselon I tersendiri di Kementerian Agama perlu ditopang oleh ekosistem riset yang kuat. Karena itu, Mu’tamad diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti dalam penguatan kelembagaan, peningkatan mutu pendidikan, transformasi digital, serta pengembangan jejaring kerja sama internasional.

Baca Juga  Hasan Basri: Bukan Hanya Tugas Pemerintah

“Tradisi keilmuan pesantren adalah kekuatan yang harus terus kita rawat. Namun, kekuatan itu juga harus mampu melahirkan jawaban atas persoalan zaman. Kita ingin pesantren tidak hanya menjadi objek perubahan, tetapi turut menjadi produsen pengetahuan, penggerak transformasi, dan penyumbang gagasan bagi arah peradaban dunia,” tegasnya.

Direktur Ma’had Aly, Dr. H. Adib, M.Ag., mengapresiasi komitmen para mudir Ma’had Aly, pengasuh pondok pesantren, mahasantri, mahasiswa, akademisi, peneliti, dan praktisi yang turut berpartisipasi dalam Mu’tamad 2026. Menurutnya, besarnya respons tersebut mencerminkan kuatnya perhatian komunitas akademik terhadap pengembangan pesantren dan pendidikan Islam.

Adib menegaskan, beragam gagasan yang disampaikan peserta tidak diharapkan berhenti pada diskursus akademik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan pesantren.

“Gagasan-gagasan ini menjadi masukan strategis berbasis data empiris dalam mengawal arah kebijakan awal Ditjen Pesantren di bawah kepemimpinan Bapak Dirjen guna menopang visi besar Menteri Agama RI,” ungkap Adib.

Pesantren Transformatif Paling Diminati

Mu’tamad 2026 mengusung tema “Menuju Pesantren Transformatif dalam Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”. Call for Papers dibagi ke dalam delapan klaster subtema yang mencakup Islam Wasathiyah, transformasi pesantren, internasionalisasi pesantren, warisan Islam Indonesia, kajian Islam dan kemanusiaan, harmonisasi kurikulum, hingga transformasi digital.

Baca Juga  BPS: Upah Nominal Harian Buruh Tani Nasional Naik Sebesar 0,13%

Ketua Panitia Mu’tamad 2026, Agus M. Aminulloh Mahin, M.Pd., menjelaskan bahwa berdasarkan data pada kanal penerimaan abstrak dan paper peserta, tema Pesantren Transformatif: Kurikulum, Pedagogi, dan Standar Mutu menjadi subtema yang paling banyak diminati dengan 134 judul.

Posisi berikutnya ditempati subtema Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia dengan 129 judul. Sementara Islam Wasathiyah dan Pendidikan Islam Moderat memperoleh 100 judul, disusul Transformasi Digital, Inovasi, dan Pesantren dengan 99 judul.

Pemetaan topik juga memperlihatkan tingginya perhatian peserta terhadap berbagai isu kontemporer. Digitalisasi dan media muncul dalam 98 judul, disusul kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebanyak 46 judul, ekologi dan keberlanjutan 34 judul, serta akreditasi dan penjaminan mutu sebanyak 31 judul.

Isu lain yang turut mengemuka antara lain gender dan hak perempuan, kesehatan mental dan psikologi, perlindungan anak dan antikekerasan, ekonomi dan pemberdayaan sosial, serta literasi digital dan disinformasi.

Keragaman topik itu, menurut Mudir Ma’had Aly Lirboyo tersebut, menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya berhadapan dengan agenda penguatan tradisi keilmuan Islam semata, melainkan pula aktif merespons perubahan teknologi, lingkungan, peningkatan mutu pendidikan, serta berbagai persoalan sosial kontemporer.

“Keragaman tema yang masuk menunjukkan luasnya perhatian akademisi dan komunitas pesantren khususnya Ma’had Aly terhadap tantangan yang berkembang saat ini. Transformasi pesantren tetap berpijak pada tradisi keilmuan, tetapi pada saat yang sama juga harus mampu merespons perkembangan zaman,” ujar Gus Aminulloh.

Baca Juga  Ketum SMSI Dan Rombongan Kunjungi Objek Wisata Tanjung Lesung

Jangkau Peserta Internasional

Antusiasme terhadap Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah (Mu’tamad) 2026 tersebut tidak hanya datang dari dalam negeri. Konferensi ini juga menarik partisipasi akademisi dari sejumlah institusi pendidikan luar negeri.

Wakil Ketua Panitia Mu’tamad 2026, M. Syarif Subhan, mengatakan bahwa peserta internasional tercatat berasal dari Pakistan, India, Malaysia, Britania Raya, Australia, Maroko, Mesir, Taiwan, dan Yordania.

Pakistan menjadi negara dengan jumlah pengirim terbanyak, yakni sembilan peserta, disusul India delapan peserta, Malaysia empat peserta, dan Britania Raya dua peserta. Sementara Australia, Maroko, Mesir, Taiwan, dan Yordania masing-masing mencatat satu pengirim.

“Partisipasi dari berbagai negara ini memperlihatkan bahwa Mu’tamad mendapat respons tidak hanya dari komunitas akademik dalam negeri, tetapi juga dari jejaring akademik internasional,” ungkap Subhan.

Partisipasi lintas negara itu mempertegas posisi Mu’tamad 2026 sebagai ruang pengembangan jejaring keilmuan internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan Islam di tingkat global.

Saat ini, seluruh abstrak yang diajukan tengah memasuki tahap verifikasi dan penilaian oleh tim reviewer. Usai melewati proses penilaian awal, peserta terpilih akan melanjutkan ke tahap pengiriman full paper. Selanjutnya, naskah yang dinyatakan lolos akan dipilih menjadi panelis untuk dipresentasikan dalam Sesi Parallel Mu’tamad 2026.

Konferensi internasional Mu’tamad dijadwalkan berlangsung di Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada 29–30 Oktober 2026.(***)

 

News Feed