MALUT.SIN.CO.ID – Ada banyak cara untuk ikut merawat kelestarian alam dan menerjemahkan program ekoteologi yang digulirkan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Salah satu cara itu adalah menanam mangrove sebagaimana dilakukan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
HMPS menanam 500 pohon mangrove di kawasan Pantai Baros, Bantul, dalam giat yang mengusung tema “Reimagining Accounting for Earth and a Sustainable Future”. Acara ini diikuti 150 peserta melalui kolaborasi HMPS Akuntansi Syariah dengan para relawan peduli lingkungan dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.
Melalui penanaman mangrove, mahasiswa menerjemahkan pengetahuan akademik mereka menjadi tindakan konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Wakil Dekan III FEBI UIN Sunan Kalijaga, Ibi Satibi, yang hadir mewakili Dekan FEBI, mengapresiasi inisiatif HMPS Akuntansi Syariah dalam menghadirkan kegiatan kemahasiswaan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai ilmu pengetahuan di ruang kelas. Ilmu yang dipelajari harus mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Penanaman mangrove ini menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana mahasiswa dapat mengambil peran dalam menjawab tantangan keberlanjutan,” ungkapnya, Sabtu (17/10/2026).
“Keberhasilan ekonomi tidak semestinya hanya diukur dari besarnya keuntungan finansial. Kita juga perlu memperhatikan bagaimana keuntungan itu diperoleh, bagaimana sumber daya dikelola, dan apa dampaknya bagi masyarakat serta kelestarian lingkungan. Inilah pentingnya membangun perspektif akuntansi yang lebih bertanggung jawab dan berorientasi pada keberlanjutan,” tambahnya.
Ketua Program Studi Akuntansi Syariah FEBI UIN Sunan Kalijaga, Sofyan Hadinata, turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia memandang penanaman mangrove sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik kepedulian terhadap lingkungan.
“Mahasiswa akuntansi perlu memahami bahwa aktivitas ekonomi selalu memiliki dimensi sosial dan lingkungan. Karena itu, kompetensi akuntansi perlu dikembangkan bersama dengan integritas, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap keberlanjutan. Kegiatan seperti ini memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya tanggung jawab tersebut,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa perkembangan ilmu akuntansi membuka peluang bagi mahasiswa untuk mendalami isu-isu seperti akuntansi lingkungan, pelaporan keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab. Pengalaman lapangan seperti penanaman mangrove dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan diskusi, penelitian, dan inovasi akademik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ketua Panitia kegiatan, Naufal Hilmi Mubarok, menyampaikan bahwa penanaman mangrove dirancang bukan semata-mata sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai ruang pembelajaran bersama untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Penanaman 500 pohon mangrove bukan hanya tentang menanam bibit, tetapi juga tentang membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan 150 peserta dari berbagai kampus di Yogyakarta menjadi bagian penting dalam memperkuat kolaborasi antarmahasiswa. Pertemuan berbagai komunitas dan relawan lingkungan diharapkan membuka ruang pertukaran gagasan, memperluas jejaring, serta mendorong lahirnya inisiatif konservasi yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Kolaborasi lintas kampus ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi atau institusi saja. Dibutuhkan partisipasi kolektif, edukasi yang berkesinambungan, dan kemauan untuk bekerja bersama dalam menjaga ekosistem.
Ketua HMPS Akuntansi Syariah, Ahmad Rehan, menegaskan bahwa organisasi mahasiswa perlu menjadi ruang pengembangan kapasitas akademik, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menghubungkan kompetensi keilmuan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Kami ingin HMPS Akuntansi Syariah menjadi ruang aktivitas organisasi dan pengembangan akademik dan tentu juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghadirkan kontribusi nyata. Kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai mahasiswa dan calon profesional yang nantinya akan berperan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai perubahan iklim dan fungsi mangrove dalam ekosistem pesisir. Sesi ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya vegetasi mangrove dalam membantu menjaga kawasan pantai, mendukung habitat berbagai organisme, serta berkontribusi terhadap penyimpanan karbon. Setelah pengarahan teknis, peserta bersama-sama melakukan penanaman 500 pohon mangrove dan kegiatan bersih-bersih di kawasan Pantai Baros.
Penanaman mangrove menjadi langkah awal yang perlu diikuti dengan upaya perawatan dan pemantauan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran peserta untuk menjaga lingkungan secara konsisten serta mendukung keberlanjutan upaya konservasi.
Melalui kegiatan ini, HMPS Akuntansi Syariah FEBI UIN Sunan Kalijaga menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan kepedulian ekologis dapat berjalan beriringan. Kolaborasi 150 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta menjadi modal sosial untuk memperkuat gerakan mahasiswa yang peduli terhadap masa depan bumi.(***)











